Bisnis UKM sangat berperan penting
untuk mengatasi dan mengurangi tingkat pengangguran yang ada di Indonesia.
Selain itu, bisnis UKM telah berkontribusi besar pada pendapatan daerah maupun
pendapatan pada negara.UMKM juga telah membantu perekonomian di beberapa negara berkembang seperti di negara Brazil, Rusia, India, Cina dan Meksiko. Kinerja nyata yang dihadapi oleh sebagian besar usaha terutama mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia yang paling menonjol adalah rendahnya tingkat produktivitas, rendahnya nilai tambah, dan rendahnya kualitas produk. Walau diakui pula bahwa UMKM menjadi lapangan kerja bagi sebagian besar pekerja di Indonesia , tetapi kontribusi dalam output nasional di katagorikan rendah. Hal ini dikarenakan UMKM, khususnya usaha mikro dan sektor pertanian (yang banyak menyerap tenaga kerja), mempunyai produktivitas yang sangat rendah.
Bila upah dijadikan produktivitas, upah rata-rata di usaha mikro dan kecil umumnya berada dibawah upah minimum. Kondisi ini merefleksikan produktivitas sektor mikro dan kecil yang rendah bila di bandingkan dengan usaha yang lebih besar.
Krisis global dunia telah menggagalkan, bahkan membangkrutkan banyak bisnis di dunia. Di tengah krisis global yang melanda dunia tahun 2008-2009, Indonesia menjadi salah satu negara korban krisis global, walaupun kita telah belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa sektor UKM tahan krisis, namun tetap saja harus ada kewaspadaan akan dampak krisis ini terhadap sektor UKM.
Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan, ketrampilan, keahlian, manajemen sumber daya manusia, kewirausahaan, pemasaran dan keuangan.
Lemahnya kemampuan manajerial dan sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. Secara lebih spesifik, masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah:
Pertama, kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar.
Kedua, kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan.
Ketiga, kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia.
Keempat, keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran).
Kelima, iklim usaha yang kurang kondusif, karena persaingan yang saling mematikan. Keenam, pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat menggelar kegiatan temu usaha yang dilaksanakan di Aula Disperindagkop UMKM. Provinsi, pertemuan ini sendiri digelar selama dua hari yaitu mulai tanggal 22 November 2016 hingga 23 November 2016, dimana pada hari pertama tanggal 22 November 2016 acara ini menghadirkan tiga narasumber yaitu BUMN yang di wakili oleh PT Post Indonesia, Indomaret serta HIMPU.
Acara ini juga dihadiri oleh lulusan Inkubator, Himpu, Cefe serta MEA. Tujuan acara ini sendiri adalah membina UMKM yang ada di Pontianak untuk berkembang serta berkompetensi dan memiliki daya saing baik lokal maupun internasional.
Sedianya acara ini sendiri akan dihadiri sebanyak 100 orang, namun yang mampu di undang hanya sebanyak 40 orang.